Usaha Yang Menguntungkan Ketika Rupiah Melemah

Usaha Yang Menguntungkan Ketika Rupiah Melemah
Advertising

Apakah Anda sedang berniat terjun ke dunia usaha tapi ciut nyali setelah melihat pergerakan nilai tukar rupiah? Jangan patah arang dulu.

Kita tahu, nilai tukar rupiah memang terus melemah sejak pertama kali diterbitkan tahun 1946 senilai Rp3,08 per dolar AS (USD) dan sekarang sudah mencapai lebih dari Rp13.000. Per hari ini saja (2/10/2017), kurs Referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) atau kurs tengah BI sudah menembus Rp13.499 per dolar AS.

Tak ada yang lebih baik dari sesuatu hal yang stabil. Berharap semua bisa berjalan sesuai keinginan bukanlah sebuah keniscayaan. Karena hidup dinamis -terus bergerak dan berkembang- mengikuti zaman, maka dinamikanya pun mempengaruhi banyak hal, menciptakan dua sisi yang berbeda. Peluang dan tantangan.

Pun pelemahan nilai tukar rupiah ini, juga ada dampak yang berlawanan. Positif dan negatif. Dampak baiknya tentu menjadi harapan semua orang. Dampak buruknya bisa jadi momok yang menakutkan.

Pelemahan kurs memang dikenal merugikan, baik perusahaan maupun individu. Banyak yang kebakaran jenggot saat nilai tukar rupiah terdepresiasi terhadap USD. Terutama bagi mereka yang model usahanya banyak bersinggungan dengan pergerakan nilai tukar. Bagaimana tidak? Rupiah yang melemah akan mengacaukan perencanaan hingga menggerus pendapatan, keuntungan, bahkan berujung pada kebangkrutan.

Namun, seperti ungkapan peribahasa ‘Ada Siang Ada Malam’, jika ada yang dirugikan, sudah pasti ada yang menangguk keuntungan dari pelemahan rupiah ini. Jika Anda sedang melirik terjun di dunia bisnis, jangan pesimis dulu!

Lalu jenis usaha apa saja yang memberikan peluang dari pelemahan rupiah ini? Simak tujuh peluang usaha yang masih berprospek, dan tak perlu lagi mengurungkan niat Anda.

1. Eksportir Ikan Segar

Semakin rupiah melemah, makin untung pula eksportir. Keuntungannya pun baik dari sisi volume hingga nilai ekspor. Semakin melemah, biasanya harga produk di luar negeri sana jadi lebih murah dan ini mendorong lebih banyak minat pembeli. Akhirnya permintaan pun meningkat. Dan eksportir bisa kebanjiran order.

Selain itu, nilai ekspor juga akan berlipat dengan sendirinya. Misalnya bila sebelumnya harga ikan per kilogramnya US$1 dengan kurs Rp12.000, bila rupiah melemah ke Rp13.000, maka dengan harga ikan yang sama saja otomatis eksportir sudah dapat untung lebih, yaitu bertambah Rp1000.

Tapi ingat, tidak semua hal berkaitan ekspor diuntungkan dengan pelemahan rupiah. Siapa mereka? Yaitu eksportir yang masih mengandalkan bahan baku atau penolong dari luar negeri. Semakin rupiah melemah, artinya biaya impor akan lebih mahal, akhirnya harga jual produknya juga makin mahal.

Jadi eksportir yang tidak bersinggungan dengan impor inilah yang benar-benar bisa diuntungkan dari pelemahan rupiah. Seperti halnya eskpotir ikan dan produk olahannya ini.

Selama ini Indonesia banyak mengekspor ikan tuna, tongkol, cakalang, makarel, gabus, salem, udang, kerapu, kakap merah, kepiting dan lainnya. Data International Trade Center tahun 2017 mencatatkan tujuan ekspor komoditas ikan hidup, segar, beku, dan kemasan kaleng Indonesia pada 2016 paling besar adalah Amerika Serikat US$1,62 miliar, Japang US$595,22 juta, dan Tiongkok US$280,82juta.

Bahkan Kementerian Perikanan dan Kelautan (KKP) menyebutkan masih banyak negara-negara lain di lingkup Asean, Eropa, Timur Tengah, dan Afrika yang berpotensi besar menjadi pangsa pasar ekspor ikan dan produk olahan Indonesia. Nah, Anda bisa mencoba jadi eksportir ikan segar dan nikmati pelemahan rupiah!

2. Produk Olahan Ikan

Bukan hanya ikan segar saja yang berpeluang diekspor. Tapi juga produk-produk olahannya. Dan produk olahan ikan yang pasti memiliki nilai tambah, dan itu akan meningkatkan berkali lipat uang Anda. Karena harga jual ikan segar dan produk olahan pasti beda. Setelah diproses, harga jualnya akan lebih mahal.

Anda bisa memproses ikan segar menjadi produk olahan seperti ikan kaleng, ikan asap, pindang presto, sosis, baso, kecap, dendeng, abon, tepung ikan, treasi, petis, ikan kering, ikan asin, dan masih banyak lagi. Dengan menjaga kualitas pasokan, maka produk Anda pun akan berdaya saing tinggi di pasar internasional.

3. Eksportir Ikan Hias

Jangan salah, prospek ekspor komoditas perikanan lainnya juga berpotensi menjadi pundi-pundi yang luar biasa. Seperti ikan hias, rumput laut, garam, dan lainnya juga tak kalah menariknya dibanding ekspor ikan konsumsi.

Bahkan seperti halnya ikan hias, baik dari laut maupun air tawar, Dewan Ikan Hias Indonesia (DIHI) pun mencatat ekspor ikan hias Indonesis selama 2016 mencapai sekitar US$65 juta dengan tujuan utamanya Amerika Serikat, Jepang, Hongkong, Australia dan Inggris. Cukup menggiurkan bukan? Apalagi ada dukungan dari pemerintah dengan adanya produksi dan perekayasaan teknologi budidaya ikan hias laut pada Balai Besar Perikanan Budidaya Laut (BBPBL) di beberapa daerah.

Anda bisa mengikuti pelatihan ini atau masuk dalam komunitas ikan hias, dan jadilah miliarder dengan memanfaatkan sumber daya laut Indonesia yang kaya ragamnya.

4. Eksportir Perhiasan dan Pernak Pernik dari Laut

Indonesia dikenal dengan keanekaragaman hayati lautnya. Bukan hanya ikan, hasil laut lain juga tak kalah menariknya untuk dijadikan nilai tambah produk ekspor. Anda bisa menjadi pengekspor perhiasan dari mutiara. Selain keindahan khas yang ditampilkan, mutiara juga memberikan kesan yang elegan dan berkelas bagi pemakainya. Tak diragukan lagi, mutiara kerap jadi banyak incaran pecinta perhiasan di seluruh penjuru dunia.

Anda juga bisa berkreasi dengan dari bebagai limbah laut seperti cangkang keong laut, karang kecil, pasir, dan lainnya untuk souvenir. Bukan hanya cantik, keunikannya pun menjadi daya tarik pecinta craft.

5. Eksportir Limbah Laut

Siapa bilang limbah laut tidak bermanfaat. Bisa dibilang hampir seluruh hasil laut ini tidak ada yang terbuang sia-sia. Bahkan limbahnya pun bernilai dan menjadi komoditas ekspor.

Anda tahu kitosan? Ya, cangkang kepiting ini juga banyak diminati pasar internasional. Tak hanya itu, cangkang udang, kulit kerang, sisik ikan, dan hasil laut lainnya juga bernilai untuk diekspor. Biasanya mereka membutuhkan cangkang kepiting untuk bahan baku pelitur produk mebel.

6. Eksportir Hasil Pertanian dan Perkebunan

Selain hasil laut, produk-produk hasil pertanian dan pekebunan juga sangat menjanjikan bagi eksportir pada saat rupiah melemah. Produk Indonesia yang banyak diminati oleh para importir luar negeri termasuk hasil pertanian dan perkebunan. Diantaranya jagung, kacang hijau, mangga, nanas, manggis, dan buah-buahan tropikal lainnya untuk hasil pertanian. Lalu kakao, tembakau, kopi, teh, karet, kelapa sawit, rempah-rempah seperti lada hitam, lada putih, kayu manis, biji pala, vanili, dan lainnya untuk hasil perkebunan.

Nah, Anda bisa mulai mendalami dan menekuni sektor ini. Dan wujudkan impian Anda menjadi jutawan dari kekayaan alam Indonesia!

7. Pemandu Wisata

Dengan bermodalkan menguasai bahasa asing utamanya Inggris, lebih bagus lagi ditambah beberapa bahasa lainnya, maka Anda bisa meraup untung dari pelemahan rupiah ini. Bagi yang hobi traveling, pasti tahu bahwa negara yang nilai tukarnya melemah jadi tujuan utama wisatawan mancanegara. Mereka bisa menekan bujet perjalanan secara signifikan. Jadi, momen inilah yang tidak akan mereka lewatkan.

Anda bisa memanfaatkan jejaring sosial untuk menawarkan jasa sebagai pemandu wisatawan. Perbanyak masuk dalam list komunitas traveler internasional. Maka dengan mudah Anda akan memperoleh order untuk memandunya menjelajah indahnya Nusantara.

Tak kalah penting, Anda juga harus mengenal dengan baik tujuan wisata yang Anda tawarkan. Pahami seluk-beluk dan sejarah tempat wisata yang jadi pilihan Anda untuk ditawarkan ke para traveller, hingga bujet ekonomis yang bisa Anda kalkulasikan untuk mereka. Maka Anda bisa menjadi travel guide yang bakal dicari banyak pelancong internasional.

Sumber : www.cermati.com


Tentang Sasi RWD

UKM Riau - Portal Media Informasi, Info Peluang Usaha, Bisnis UKM Riau Dan Direktori UKM Pekanbaru Riau Berbasis MEA