Tidak hanya hasil yang masnias untung juga semakin manis

Tidak hanya hasil yang masnias untung juga semakin manis
Advertising

JAKARTA. Sebagai bahan dasar pembuatan gula, tebu termasuk komoditas strategis untuk dikembangkan. Muhammad Fatah Mutaqien,
pebudidaya tanaman tebu asal Klaten, Jawa Tengah mengatakan, permintaan tebu di pasaran masih tinggi.

“Kami membudidayakan serta menjual tebu untuk memenuhi kebutuhan pabrik gula dan pedagang es tebu,” kata Fatah yang sudah membudidaya tebu sejak tahun 1996.

Menurut Fatah, tanaman tebu memiliki banyak khasiat untuk kesehatan tubuh. Di antaranya dapat mencegah stroke, menguatkan gusi dan gigi,
mengatasi mimisan dan baik untuk melawan kanker payudara.

Sari air tebu juga bisa menjadi alternatif yang baik untuk bahan gula mentah atau pemanis buatan.
“Selain itu, juga bisa diolah menjadi jus tebu yang bermanfaat menjaga kadar glukosa darah tetap seimbang,” kata Fatah yang membudidayakan tebu seluas 16 hektare.

Pembudidaya lainnya adalah Awan asal Tulungagung, Jawa Timur. Sama seperti Fatah, ia juga memasarkan hasil tebu tanamannya ke pabrik gula dan pedagang es tebu.

Menurut Awan, budidaya tanaman tebu tidak terlalu sulit. “Perawatan tebu lebih praktis dibandingkan padi,
cabai atau sayuran yang butuh pengawasan rutin dan pemeliharaan terus menerus,” ujarnya.

Fatah menambahkan, secara umum tanaman tebu bisa tumbuh di mana-mana. Lantaran tidak memilih jenis tanah tertentu untuk hidup,
tebu bisa dikembangkan di daerah dataran rendah maupun tinggi.

Namun, sebaiknya tetap diprioritaskan tanah  untuk tanaman tebu yang kandungan airnya sedikit. Sebab, jika tanah mengandung air terlalu banyak,
saripati tebu menjadi tidak terlalu manis.

Fatah mengaku, dalam setahun lahan yang dikelolanya bisa menghasilkan 880 ton tebu. Tebu sebanyak itu dipasarkan
ke beberapa pabrik gula yang ada di daerah Klaten, seperti Gondang Winangun.

Fatah memanen tebu selama musim giling dan tiap hari mengirimkan tebu ke pabrik-pabrik gula rata-rata,
5,5 ton tebu. Setelah menjadi gula, Fatah mengaku, dengan rendemen rata-rata 7%, bisa mendapatkan bagian Rp 1,5 juta yang merupakan 65%
dari nilai total gula yang dihasilkan.

Dengan demikian, dari 880 ton tebu tersebut, Fatah memperoleh bagian sekitar Rp 240 juta per sekali panen.
Namun, Fatah mengaku ia juga menjual tebu ke pedagang es tebu selain ke pabrik tebu, sehingga total omzet yang didapat mencapai sekitar Rp 250 juta.

Sementara Awan mengaku mengantongi penjualan sebesar Rp 50 juta setiap panen. Selain dari hasil menjual tebu,
omzet itu didapatnya dari menjual bibit tebu jenis bud chip yang masih berusia dua bulan. Bibit itu dihargainya Rp 500 per batang.
“Dalam sebulan saya bisa menjual puluhan ribu bibit,” ujarnya.

sumber : kontan.co,id


Tentang Isti RWD